Alasan Utama KPR Syariah Kurang Diminati

Merupakan negara dengan penduduk pemeluk agama muslim terbanyak di dunia, tidak heran Indonesia menjadi negara yang memiliki peluang besar untuk tumbuhnya bisnis perbankan Syariah. Dengan fakta tersebut, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar untuk produk kredit pemilikan rumah atau KPR Syariah. KPR Syariah sendiri merupakan produk KPR yang menerapkan aturan transaksi perbankan tanpa riba yang berbasis islami.

Namun, kondisi yang ada sekarang, pasar perbankan di Indonesia masih dikuasai oleh banyak bank konvensional dibanding dengan bank Syariah. Termasuk dalam pengajuan KPR. Tercatat baya sekitar 5% pangsa pasar yang dikuasai bank Syariah. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat masih memercayai bank konvensional dibanding dengan bank Syariah dalam proses perbankan baik itu untuk menabung hingga juga proses beli dan jual rumah.

KPR Syariah

Setidaknya ada dua alasan besar yang menyebabkan bank dan KPR Syariah masih kurang diminati . hal ini adalah karena stigma negatif yang menempel pada sistemnya.

Yang pertama, masyarakat masih mengeluhkan KPR Syariah yang ternyata sama mahalnya dengan bank KPR konvensional. Bank Syariah dianggap banyak orang memiliki label yang dianggap banyak orang bersifat luwes dan berorientasi sosial.

Padahal, Syariah yang dimaksud dalam bank Syariah adalah sebuah konsep yang bersifat keislaman dan diaplikasikan pada bisnis. Berdasarkan hal tersebut, sudah jelas bahwa bank Syariah bukanlah lembaga sosial yang dapat begitu saja memberikan donasi atau bantuan tanpa menghitung untung dan rugi.

Alasan yang kedua adalah banyak arang yang masih menganggap bahwa sistem margin dan bunga pada KPR Syariah dan KPR konvensional adalah sama saja. Banyak masyarakat yang masih belum dapat memahami secara penuh akan perbedaan keduanya.

Seperti diketahui, KPR konvensional merupakan sistem yang besaran bunganya fluktuatif atau naik turun tergantung dengan kondisi pasar dari waktu ke waktu. Sehingga jumlah cicilan rumah tidak dapat diprediksi dan tidak tetap.

Sementara KPR Syariah tidak mengenal istilah bunga. Dalam sistem KPR Syariah, yang dikenal adalah sistem margin. Namun, bunga dan margin adalah dua hal yang berbeda. Margin bersifat tetap dan tidak akan mengikuti kondisi pasar. Sementara bunga dapat berubah-ubah, fluktuatif, tergantung dengan suku bunga Bank Indonesia.

Sistem KPR Syariah sebenarnya dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan juga rasa nyaman bagi para debitur atau nasabahnya. Alasannya, nasabah tidak perlu khawatir jumlah cicilan akan membengkak, karena dengan sistem Syariah, harga cicilan akan tetap hingga massa tenor berakhir. Jumlah tersebut biasanya disepakati calon pembeli dan pihak bank di awal perjanjian kredit dibuat.

Leave a Reply